Wednesday, July 12, 2006

Mengapa Kita Menulis?

Jika Anda serius ingin menjadi penulis, pertanyaan paling penting yang harus pertama kali Anda jawab adalah mengapa, baru kemudian apa dan bagaimana. Anda perlu menggali sedalam-dalamnya niat Anda menjadi penulis. Kesadaran diri yang tinggi terhadap niatan tersebut akan memberikan Anda cukup energi untuk memulai proses menulis, dan mengatasi rintangan-rintangan dalam proses tersebut.

Saya pernah baca bahwa kita pada dasarnya telah diajarkan kemampuan teknis menulis sejak kelas 1 SD. Jadi waktu kita lulus SMA, sebenarnya kita sudah belajar menlis selama 12 tahun. Fakta akan adanya pelajar yang masih gagap dalam hal menulis menunjukkan ada yang salah dalam proses belajar mengajar tulis menulis di sekolah.
Dengan mengesampingkan bakat dan talent ndividu yang berbeda dalam kemampuan menulisnya.

Kebanyakan buku tentang karang mengarang atau tulis menulis yang beredar di pasaran juga membahas aspek-aspek teknis. Nah, tulisan berikut mencoba menggali aspek nonteknis, aspek mengapa, dan aspek-aspek sebelum suatu tulisan lahir.

Nah, mengapa kita menulis? Berikut adalah beberapa alasan yang bisa saya temukan:

1. Menulis adalah Salah Satu Langkah Menuju ke Keabadian

2. Menulis Berarti Menata Pikiran

3. Suatu Tulisan Berpotensi Tersebar Sangat Luas

4. Menulis itu Menyehatkan

5. Membantu Mendapatkan dan Mengingat Informasi Baru


Semuanya tergantung anda. Apakah anda hanya setuju dari beberapa point diatas, setuju semuanya atau bahkan tidak sependapat sama sekali.

1. Menulis adalah Salah Satu Langkah Menuju ke Keabadian

Karya-karya tulis Akan kekal sepanjang masa,
Sementara penulisnya Hancur terkubur di bawah tanah.
ungkapan yang singkat namun sudah cukup menjelaskan.

2. Menulis Berarti Menata Pikiran

Berikut penulis kutipkan kata-kata Andrias Harefa dalam bukunya, Agar Menulis – Mengarang Bisa GAMPANG.

"Bagi saya, mengarang adalah salah satu cara belajar. Banyak hal yang saya pelajari menjadi lebih kuat melekat dalam ingatan karena saya olah menjadi tulisan. Pada saat saya menulis, berbagai ide dan gagasan yang simpang siur harus mulai disusun secara sistematis agar dapat dipahami orang lain dengan baik. Proses penyusunan ide-ide itu akan membawa saya pada pengenalan akan ide-ide orang lain dan pendapat pribadi saya terhadap ide-ide tersebut. Lalu saya harus belajar menyusun argumentasi untuk menopang ide saya agar masuk akal (rasional). Dengan demikian, keterampilan mengarang sesungguhnya mengembangkan sikap rasional dalam diri si pengarang itu sendiri."


Dalam bukunya Quantum Writing, Hernowo menuliskan beberapa teknik baru menulis buku. Teknik-teknik tersebut adalah:

a. Menulis-Mengalir dengan Menggunakan Metode Peta-Pikiran

b. Menulis-Dinamis dengan Menggunakan Iringan Musik

c. Menulis-Sinergis Gaya Quantum Learning

d. Menulis-Super Gaya Accelerated Learning

Meskipun berbeda dalam gaya, semua metode di atas pada dasarnya memiliki kesamaan, yaitu menata pikiran.

3. Suatu Tulisan Berpotensi Tersebar Sangat Luas

Jika Anda menuliskan suatu artikel, dan mengirimkannya lewat imel kepada – katakanlah – lima milis yang Anda ikuti, berarti Anda sudah mengirimkan artikel kepada lima puluh orang, dengan asumsi satu milis terdiri dari sepuluh anggota. Jika separuh saja dari anggota setiap milis tadi menyebarkannya kepada lima milis lainnya yang berbeda, berarti potensi orang yang akan membaca artikel tadi adalah 5 milis X 5 orang X 5 milis X 10 orang = 1250 orang. Lanjutkan lagi jika sepuluh persen saja dari jumlah terakhir melanjutkannya kepada milis-milis lain …!

4. Menulis itu Menyehatkan

Menurut Fatima Mernissi, sebagaimana dikutip Hernowo dalam bukunya Quantum Writing, menulis itu menyehatkan.

Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungannya yang luar biasa! Dari saat Anda bangun, menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera lenyap dan kulit Anda akan terasa segar kembali.

Pennebaker menunjukkan kepada kita, sekali lagi, pelbagai manfaat menulis sebagaimana tersaji berikut ini:

1. Menulis menjernihkan pikiran. Saat memulai tugas yang rumit, cobalah untuk menuliskan pikiran dan perasaan Anda. Para ahli hipnotis profesional sering menggunakan teknik ini untuk mempercepat proses hipnotis. Pada dasarnya, mereka meminta klien mereka untuk menuliskan pikiran dan perasaan mereka pada saat itu. Saat klien mereka selesai menulis, ahli hipnotis ini meminta klien untuk merobek kertas yang mereka pakai dan membuangnya. Hal ini merupakan sebuah tindakan simbolis bagi penjernihan pikiran.

2. Menulis mengatasi trauma yang menghalangi penyelesaian tugas-tugas penting. Sesudah terjadinya sebuah kemelut yang besar, orang-orang cenderung dihantui kejadian itu. Dalam memikirkan trauma itu, dan bahkan dalam upaya untuk tidak memikirkannya, orang-orang akan menggunakan kapasitas pikiran-pikirannya yang terbesar. Oleh sebab itu, mereka akan menjadi pelupa dan tidak bisa memusatkan perhatian mereka pada pekerjaan-pekerjaan baru yang besar. Menulis tentang trauma akan membantu dalam mengelola trauma, dan dengan demikian membebaskan pikiran untuk menangani tugas-tugas lainnya.

3. Menulis membantu memecahkan masalah. Karena menulis mendorong proses integrasi informasi, maka menulis bisa membantu memecahkan masalah-masalah yang rumit. Jika seseorang menulis dengan bebas tentang sebuah masalah yang rumit yang sedang ia hadapi, ia akan lebih mudah untuk mendapatkan pemecahannya. Ada beberapa alasan untuk hal ini. Salah satunya adalah bahwa menulis memaksa orang-orang memusatkan perhatian mereka lebih panjang pada satu topik tertentu daripada kalau mereka hanya memikirkannya. Karena menulis lebih lambat daripada berpikir, setiap gagasan harus dipikirkan dengan lebih terperinci. Menulis lebih bersifat “linier” daripada berpikir, yaitu bahwa menulis memaksa suatu gagasan untuk ditranskripkan sebelum gagasan lainnya mulai dipikirkan.

Singkatnya, menulis bisa menjadi sebuah kemampuan yang sangat berharga dalam mempelajari dan menghadapi dunia. Pada kesempatan yang tepat, menulis bisa meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Meskipun bukan suatu obat yang serba manjur, penggunaan kegiatan menulis secara bijaksana bisa memperbaiki kualitas kehidupan bagi sebagian besar dari kita.

5. Membantu Mendapatkan dan Mengingat Informasi Baru

Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian tentang kegiatan mencatat, menulis catatan yang penuh pemikiran, atau, dalam kasus anak-anak kecil, coretan-coretan, membantu orang-orang untuk mendapatkan dan mengingat kembali gagasan-gagasan baru. Menulis bisa membantu memberikan suatu kerangka yang bisa dipakai untuk memahami perspektif baru dan unik dari orang lain. Bahkan menulis tentang hal tersebut akan membuat gagasan-gagasan semakin jelas dan mudah diingat. Demikian hasil penelitian Pennebaker sebagaimana dikutip Hernowo dalam bukunya Quantum Writing.

thx to Sabrul Jamil (bestmuslim buletin)for the inspiration..

1 comments:

"Gie" said...

WOW... menulis buatku adalah sesuatu yang mengalir. Persoalan teknis bukanlah suatu yang baku. Aku lebih suka memanjakan pikiranku dan imajinasiku.